“Manual Book” Berkesusasteraan dari Puri Kauhan: Cermin Kehidupan para Cendikia di Ubud

 

BEBERAPA saat yang lalu, tepatnya sejak tanggal 2 sampai dengan 3 Juni 2017, Puri Kauhan Ubud menyambut kedatangan sekitar 20 orang “juru gebeg lontar” (petugas bersih-bersih lontar) yang tergabung dalam tim Penyuluh Bahasa Bali. Tim ini bertugas untuk merawat dan mengungkap naskah-naskah lontar koleksi keluarga yang kabarnya sudah lama tidak terawat. Apa sajakah naskah yang ditemukan “juru gebeg” ini?

 

Puri Kauhan dikenal sebagai tempat tinggal seorang jaksa yang mendampingi pemerintahan Ida Tjokorde Gede Sukawati, yaitu (alm.) Ida Anak Agung Gede Oka Kerebek. Oleh sebab itu, ditemukan lontar ber-genreagama yang berisi undang-undang kerajaan. Selain perihal hukum, lontar lain tentang pengobatan, prosa, puisi, sejarah keluarga, kaputusan, aji, dan mantra juga ditemukan. Koleksinya sejumlah 64 naskah bisa dikatakan kompak dan komprehensif.

 

Menurut cerita dari Anak Agung Gede Ngurah Ari Dwipayana, panglingsir puri yang kini menjadi staf khusus kepresidenan, keluarga ini sudah bergaul dalam jejaring intelektual di Ubud sejak lama. Kaum-kaum cendikia (keluarga puri dan brahmin) di sini biasa bertukar kepustakaan untuk bagi-bagi ilmu. Alasan genre yang beragam ini menjadi masuk akal.

 

Dari sekian temuan, terdapat sekelompok lontar yang menarik perhatian, yaitu Dasa Sana (Dasa Nama), Guru Laghu, dan Kreta Bhasa. Lontar ini menarik bukan karena isinya yang bisa mengajak Anda terbang setinggi lintang trenggana atau bisa mengusili tetangga Anda yang suka bergosip. Pustaka ini mengajak pembacanya selangkah lebih dalam menyelami khasanah kesusasteraan Bali. Berisikan tuntunan belajar menulis aksara Bali, keterampilan berbahasa Jawa Kuna, dan pengetahuan dasar olah suara untuk melantunkan prosodi, ajarannya sangatlah praktis.

 

Buku pedoman ini membantu pembelajarnya memahami isi naskah-naskah berbahasa Jawa Kuna dan Sansekerta dengan detil. Selain itu, lontar ini mengundang siapapun untuk mempelajarinya.Kesan moderat dari naskah ini termaktub pada naskah “Guru Laghu”. Mari kita lihat petikan bait pembukanya:

“Sakweh ning sujanātiharṣa rumĕngö canda nihan kawruhi, yan mahyun wruhi rūpa ning laghu lawan têkang sinangguh guru.

Terjemahan: “Ketahuilah (ajaran) ini wahai para cendikia sekalian yang senang mendengar canda, jika ingin mengetahui bagaimana laghu dan yang disebut guru itu.”

Naskah lain semacam Dasa Sana (Dasa Nama) dan Kreta Bhasa berisi daftar sinonim dari kata-kata.. Penggunaannya untuk mencari padanan kata yang muncul di naskah-naskah yang mengandung bahasa Sansekerta, Prakerta, dan Jawa Kuna. Bisa dikatakan lontar-lontar ini adalah kamus sinonim.

 

dapun kakawin, tantri, kandayang ditemukan di Puri Kauhan Ubud antara lain, Kakawin Bharatayuddha, Ramayana, Adiparwa, Arjuna Wiwaha, Tantri Kamandaka, dan Uttara Kanda. Perlu diketahui bahwa teksnya tidak hanya mengandung kisah yang imajinatif dan membuai pendengarnya di peraduan. Isinya sarat dengan filsafat Hindu yang sangat luas dan dalam. Untuk itu, ini bukanlah konsumsi orang yang campah. Orang yang berniat mempelajarinya pasti orang yang punya keinginan untuk memikirkan kehidupan secara lebih dalam.

 

Tidak perlu ketar-ketir kalau ingin membaca naskah-naskah ini. Nyatanya, ia bukanlah seperti lontar pingit dengan pesan aywa wera, aywa cawuhatau iti rahasya. Ajarannya terbuka bagi siapa saja yang hendak belajar, asal, calon pembacanya tidak nir-aksara dan punya kemampuan berbahasa Jawa Kuna yang memadai.

 

Artikel ini telah diterbitkan dengan judul yang sama di Tatkala.co http://www.tatkala.co/2017/06/06/manual-book-berkesusasteraan-dari-puri-kauhan-cermin-kehidupan-para-cendikia-di-ubud/